December 13, 2007

The Power of Playing

“Play is the highest expression of human development, for it alone is the free expression of what is in a child’s soul” Friedrich Froebel – The inventor of kindergarten (LeBlanc, 2006)

Young children learn differently from adults. Adults learn through memorizing, reading, and writing. Children learn so naturally – through playing (Sarama & Clements, 2006). Some researches (LeBlanc, 2006; Schroeder, 2007; Stegelin, 2005) agree that play is the best way for children to learn. Without enough time to play, children will get stress (Schroeder, 2007). Schipani (2007) argues that ‘child’s brain receives important nutrients when he is active, and when kids are involved in free play, they have the opportunity to develop valuable social skills’. Through the context of play, young children can develop their literacy (Einarsdottir, 1996) and play is very important because it contributes to the cognitive, physical, social and emotional well-being of children and youth (Ginsburg, 2007). Stegelin (2005) summarises that active play contributes into positive outcomes such as reducing levels of obesity, heart-related problems and chronic stress, optimizing cognitive development, enhancing language and early literacy development, and developing their social competence.

Though children could memorise academic concept really strongly, separating children from play will lead into other problems. Moreover, there is not any significant correlation between children development and formal instruction (Schroeder, 2007). Jacobson (2005), reporting a research done by the National Institute of Child Health and Human Development’s Study of Early Child Care and Youth Development, concludes that advantages children acquire by being involved with academic activities such as mathematics, vocabulary, and memory skills in childcare and kindergarten appear to remain at least through 3rd grade before they, then, suffers from other social problems. The problems varied from mother-child conflicts, bad behaviour at school, aggressive, disobedient to even poor work habits at school.

History has told us that genius people did not start their smartness since they were young. Some of them, even, were blamed to be idiot in their early age. ‘Albert Einstein, probably the most well-known scientist in 20th century, did not talk until the age of three but even as a youth he showed a brilliant curiosity about nature and an ability to understand difficult mathematical concepts’ (Encarta, 2007).

This might be an indicator that children start learning something when they are ready to do so. Parents, teachers and other adults do not have any privilege to force them learning in a particular way. What they need to do is facilitating children to learn based on their development stages. Their smartness in early age does not guarantee they will become an expert when they grow. Vice versa, although young children could not read or do mathematics questions, it does not mean they will face worse future.

Dedy Gunawan, M.Ed candidate of Flinders University of South Australia

November 23, 2007

Presentasi di Australia: Who Knows?

Oleh Dedy Gunawan

Memang nasib orang tidak bisa ditebak. Siapa sangka tanggal 22 November 2007 menjadi sebuah hari yang bersejarah, karena untuk pertama kalinya aku ikut konferensi penelitian pendidikan (Educational Research Conference 2007) di Australia. Kenapa begitu istimewa? Karena aku menjadi salah satu presenter di konferensi yang bertajuk “Envisaging Educational Futures” itu. Konferensi itu dilaksaakan di kampus Flinders University, Adelaide.

Adalah Paul Jewell, dosen senior Ethics in Education Flinders University, yang “menodong”ku mempresentasikan hasil kajian pustakaku yang berjudul “Solving the Indonesian National Examination Problem: Ethical Strategies”. Pada mulanya aku ragu untuk mempresentasikannya, karena dalam batin bergulat sebuah dilema: Apakah kalau aku mempresentasikannya, aku tidak dalam posisi ‘menelanjangi’ pendidikan di Indonesia di depan peserta-peserta yang berasal dari berbagai negara itu? Karena salah satu hal yang aku presentasikan adalah “nyontek bersama” antara siswa, guru dan kepala sekolah, yang didukung oleh kepala dinas pendidikan di beberapa sekolah di beberapa daerah di Indonesia pada UN 2007. Sedangkan di negara-negara maju, sekedar salah kutip ketika menulis essay saja sudah dianggap plagiarisme. Bagaimana nanti mereka mau melihat bangsa kita?

Akhirnya aku menjadi pedhe setelah melihat-lihat bahwa banyak koran online baik berbahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris yang sudah terlebih dahulu membeberkan hal yang sama, utamanya hasil investigasi tim depdiknas tentang 37 kecurangan dalam UN, pengakuan Komunitas Air Mata Guru, dan pengakuan siwa-siswa SMP dan SMA yang dilansir oleh media-media itu. Artinya, berita tentang organised cheating di Indonesia sudah tersebar ke mana-mana dan bukan lagi“rahasia negara”. Terlebih, yang aku tawarkan adalah sebuah jalan pemecahan.

Hal kedua yang terjadi adalah… grogi. Rasanya baru pernah aku merasa senervous ini. Bagaimana tidak, presentasi dalam Bahasa Indonesia saja blekathak blekuthuk, bagaimana kalau dengan Bahasa Inggris? Dua hari menjelang presentasi sempat terpikir untuk mundur saja. Namun dengan berbagai “pertimbangan waras”, dan persiapan yang dicukup-cukupkan – karena berbarengan dengan pengerjaan tugas-tugas kuliah, akhirnya maju adalah pilihan tepat. Satu menit setelah presentasi, aku merasa telah menjadi pemenang dalam sebuah pertandingan gulat kelas super berat melawan ketakutan.

Hal paling mengesankan dalam presentasi itu adalah bagaimana para peserta menghormati sebuah keterbatasan. Mereka, dengan Bahasa Inggrisku yang ndrengkeyeng, mau begitu tekun mendengarkan penjelasan yang aku sampaikan. Rasanya, selama presentasi, baik presentasiku maupun presentasi peserta-peserta yang lain, tidak terlihat adanya ‘pembantaian’, satu hal yang lazim terjadi di forum-forum diskusi di negeriku. Ini menjadi sebuah pelajaran penting bagiku.

‘Iintegrity is more important than honesty’ kata Adi Suryani, dosen ITS Surabaya yang juga melakukan presentasi di forum yang sama. Ada kalanya, demi orang lain, demi perdamaian dan kemanusiaan, kita harus menyembunyikan sebuah kejujuran.
Kini, buah dari presentasi itu, aku semakin paham tentang satu hal: dunia akademis membutuhkan kesabaran, kebijaksanaan dalam berfikir, dan kedewasaan dalam berargumentasi.

Satu beban terlewati, di luar sana Summer membakar rumput dan pepohonan.

______________________________________________________________________________________
Untuk melihat abstrak dan jadwal konferensi, klik Educational Research Conference 2007 Booklet